KASUS kejahatan yang tak kalah berbahayanya yang masih akan tumbuh subur di Provinsi Kepri pada 2018, khususnya Batam, adalah penyalahgunaan narkoba. Bahkan Kepri masih jadi salah satu pintu utama masuknya narkoba dari luar negeri yang akan diedarkan di berbagai wilayah di Indonesia.

 

“Narkoba asal Malaysia masih menjadi salah satu penyumbang terbesar narkoba di negeri ini, khususnya jenis sabu,” kata Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kepri Brigjend Pol Nixon Manurung, Rabu (27/12) tahun lalu, sebelum pindah tugas menjadi Kepala BNNP Kalimantan Selatan.

Selama menjadi kepala BNNP Kepri, Nixon menyebutkan narkoba jenis sabu asal Malaysia lebih banyak keluar lewat pelabuhan Johor Bahru. Dari Johor Bahru, narkoba dikirim ke Batam atau wilayah lainnya di Kepri, sebelum diselundupkan lagi ke wilayah lainnya di Indonesia.

Bahkan narkoba yang masuk ke Kepri dari Johor, tak sekadar transit di Batam. Pulau berbentuk kalajengking ini juga menjadi pasar potensial. Pria yang baru saja ditunjuk menjadi Kepala BNNP Kalimantan Selatan ini menyebutkan, khusus di Kepri, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba sudah masuk tahap mengkhawatirkan. Sebab tak hanya menyasar orang dewasa, namun juga mahasiswa, bahkan pelajar setingkat SMP.

“Remaja itu termasuk golongan yang rentan terhadap penyalahgunaan narkoba, karena di usia mereka itu, mereka memiliki sifat dinamis, energik, dan rasa ingin tahu yang tinggi, sangat rentan terjerumus ke penyalahgunaan narkoba,” jelasnya.

Nixon menyebutkan, pada 2017 saja, pihaknya berhasil mengungkap sindikat peredaran narkoba jenis sabu-sabu dari Malaysia dengan barang bukti yang cukup banyak. “Kami mengamankan 37.746 gram sabu-sabu, sejumlah itu jugalah masyarakat Kepri yang kami selamatkan dari narkoba ini,” jelas Nixon.

Barang bukti sabu itu akumulasi 55 kasus tindak pidana narkotika yang sudah P21. Sedangkan jumlah jaringan atau sindikat yang terungkap ada delapan jaringan besar, tujuh jaringan sedang, dan enam jaringan kecil.

“Totalnya 21 jaringan yang kita ungkap sepanjang tahun ini,” ujar Kepala Bidang Pemberantasan Narkoba BNNP Kepri, Bubung Pramiadi.

Bubung menyebutkan, dari sindikat tersebut, diamankan 92 tersangka. Satu di antaranya anak di bawah umur berusia 16 tahun yang bertindak sebagai kurir.

Tak hanya WNI, dari 92 tersangka itu, ada 12 Warga Negara Asing (WNA). Satu WNA asal Amerika Serikat dan 11 warga negara Malaysia.

Dibandingkan 2016, jumlah kasus tindak pidana narkoba memang menurun. Tahun 2016 ada 62 kasus. Namun dari sisi barang bukti, jauh lebih besar di 2017. Meski hanya 55 kasus, namun barang bukti sabunya menembus angka 37.746 gram atau 37,74 kilo gram. Sementara di 2016 dari 62 kasus, barang buktinya hanya 17 kg sabu-sabu dan 25 ribu butir ekstasi.

“Jadi jumlah kasus itu bukan ukuran kesuksesan, ukurannya berapa banyak BB yang diamankan karena berkaitan langsung dengan jumlah warga yang diselamatkan,” kata Bubung.

Keberhasilan BNNP Kepri dalam pelaksanaan program pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkoba (P4GN) di Kepri selama 2017, tak lepas dari dukungan masyarakat yang aktif melapor ke BNNP. Juga berkat kerja sama dengan instansi yang jadi bagian Criminal Justice System, serta pelatihan peningkatan kemampuan penyidik sehingga menambah skill personel dalam mengungkap kasus narkoba.

Selain itu, BNNP Kepri juga menjalin kerja sama dengan Bea Cukai, TNI AL, Kepolisian, Jaksa, Hakim, para penegak hukum, serta lembaga pendidikan, serta masyarakat dalam upaya pemberantasan narkoba melalui diseminasi, penyuluhan, dan juga sosialisasi. BNNP menanamkan bahwa narkoba itu merupakan musuh bersama.

Brigjend Pol Richard Nainggolan, kepala BNNP Kepri yang baru mengatakan, BNNP Kepri akan meningkatkan koordinasi dan optimalisasi, serta meningkatkan daya tolak masyarakat terhadap barang haram ini pada 2018 ini.

Menurutnya, penyalahgunaan narkoba bukan sekadar perilaku menyimpang, yang apabila tertangkap, langsung diproses hukum. Tidak sesederhana itu. Penyalahgunaan barang haram ini tak hanya kasus kriminal saja, melainkan bagian dari kejahatan khusus yang dampaknya luar biasa. Sebab dampaknya akan mempengaruhi keberlangsungan dan tatanan hidup di negeri ini.

Bahkan, kejahatan narkoba disejajarkan dengan kejahatan korupsi dan terorisme. Sebab, korbannya banyak dan merusak masa depan generasi penerus. Baik fisik maupun mentalnya.

“Tak hanya mempengaruhi fungsi kognitif, tapi juga mempengaruhi perasaan, psikomotorik, sehingga membuat pemakainya tidak bisa berpikir normal, rentan jadi pemurung, pemarah, depresi, sulit konsentrasi, dan rentan asusila sehingga mendorong penggunanya melakukan tindakan kriminal,” bebernya.

Kasus kecil akibat narkoba, para penggunanya apabila tidak memiliki uang untuk membeli barang haram untuk pemenuhan kebutuhannya, maka si pengguna rentan melakukan perbuatan kriminal lain seperti memeras orang-orang dekat, menganiaya, mencuri, merampok, bahkan bisa sampai melakukan tindakan pembunuhan. Tindakan ini sangat meresahkan masyarakat.

Sementara pemerhati sosial yang juga psikolog, Mahmud Syaltut, mengaku prihatin anak bawah umur sudah jadi pengedar. Bahkan, kini banyak usia SMP sudah menjadi pengguna narkoba. “Butuh pencegahan defensif,” ujar Syaltut, Kamis (28/12) tahun lalu.

Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Daerah Kepri ini menjelaskan, tak hanya penyalahgunaan narkoba, anak-anak di Kepri kini juga banyak terlibat kasus tindak kriminal lainnya.

Ia mencontohkan, di Tanjungpinang, ibukota Provinsi Kepri, mereka baru saja mengurus kasus pencurian laptop yang dilakukan anak usia lima tahun. Pada awal November lalu, anak usia tujuh tahun juga mencuri uang orangtuanya senilai Rp 5 juta. Menurut Syaltut, tindakan ini merupakan bagian dari reaksi kognitif.

“Ada yang namanya reaksi kognitif. Dimana, anak-anak kini sangat mudah mendapatkan informasi-informasi yang begitu transparan dari internet atau pun televisi. Mereka terpapar, tanpa sortir. Makanya rentan meniru. Meniru kegiatan yang negatif,” jelas Syaltut. (cha)